admin_fransiskaamir

Menemukan Kejernihan – Menyatukan Niat, Akal, dan Doa dalam Karir

By |August 24th, 2025|Categories: Karir|

Beberapa waktu lalu, seorang teman bercerita. Usianya 37 tahun, sudah bekerja lebih dari 12 tahun di perusahaan multinasional. Dari luar, karirnya terlihat mapan: posisi manajerial, gaji stabil, dan jaringan luas. Namun di balik itu, ia menyimpan kegelisahan. Ia merasa ada yang kosong. Ia mempertanyakan karirnya, apakah ia harus tetap di sana, atau mencari jalan baru yang lebih bermakna? Cerita ini bukanlah hal yang asing. Banyak profesional usia 30–45 mengalami fase yang sama: fase evaluasi hidup dan karir. Psikolog Erik Erikson menyebut fenomena sebagai masa generativity vs stagnation, yaitu periode di mana seseorang ingin hidupnya bermakna dan berdampak, bukan sekadar

Coaching : My Transformation Space

By |August 24th, 2025|Categories: Coaching|

Ada masa dalam hidup saya ketika rasa galau begitu kuat. Setelah 17 tahun bekerja di sebuah perusahaan besar, saya mulai merasa ada yang kosong. Saya memaksa diri bertemu orang-orang baru, ikut komunitas, dan belajar hal-hal di luar rutinitas kantor. Ini terjadi di tahun 2015. sebuah titik awal dari perjalanan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Tahun berikutnya, saya berkenalan dengan Kak Ochy. Saat memperkenalkan diri, ia menyebut dirinya sebagai Coach dan founder dari Insight Sinergi Talenta. Saat itu saya tidak benar-benar paham apa itu coaching. Yang saya tangkap sederhana: coaching membantu seseorang menemukan kejelasan dalam dirinya sendiri. Rasa ingin tahu

Tiga Tanda Karir Anda Butuh Reposisi, Bukan Berhenti

By |August 18th, 2025|Categories: Karir|

Belakangan ini, semakin banyak profesional merasa gelisah dengan karirnya. Target kerja makin tinggi, beban makin berat, sementara kepuasan semakin menipis. Di sisi lain, media sosial terus menampilkan “kisah sukses” teman seangkatan: ada yang sudah jadi manajer, ada yang pindah ke perusahaan besar, bahkan ada yang banting setir jadi entrepreneur. Di tengah tekanan itu, wajar jika muncul pikiran: “Apakah saya juga harus resign?” Tapi, tidak semua kegelisahan karir harus diselesaikan dengan cara keluar dari pekerjaan. Kadang, yang sebenarnya kita butuhkan bukan jalan baru, melainkan cara baru menapaki jalan yang sama. Bukan resign, tapi repositioning. Lalu, bagaimana kita tahu kapan saatnya melakukan

Purposeful Career : Dari Keresahan hingga Reposisi Diri dalam Karir

By |August 18th, 2025|Categories: Karir|

Ada sebuah fase yang sering kali menjadi titik krusial dalam perjalanan karir: usia 30–40 tahun. Di rentang ini, banyak profesional merasa seperti “stuck.” Pekerjaan berjalan, tapi hati tidak sepenuhnya merasa terlibat. Posisi sudah cukup atau bahkan sangat mapan, tapi ada keraguan: apakah ini benar jalan yang ingin ditempuh? Rasa resah itu makin kuat ketika kita melihat karir teman sebaya yang tampak lebih cemerlang. Ada yang sudah jadi general manager bahkan direktur, ada yang bisnisnya melejit, ada pula yang tenang dengan karir stabil sambil menikmati hidup. Di tengah perbandingan itu, muncul pertanyaan yang menekan: “Kenapa saya masih di sini? Apakah

Go to Top